The Next Level

Happy, Happy and Happy. Yes, tahun ini saya promosi lagi 🙂

When the announcement day itu tiba, dimana setiap employee di panggil di ruangan boss, one by one untuk menerima “hasil rapot” atas kinerja selama setahun.

Melihat ekspresi teman kantor abis terima rapot adalah hal yang menyenangkan *padahal kepo* haha, ada yg tersenyum lebar, ada yang sok cool, ada yang biasa ajah. Lucu deh hehe.Tentu ekspresi yang di tampilkan tidak selalu berbanding lurus dengan hasil rapotnya.

Finally, giliran saya untuk masuk ke ruangan Ibu bos. As usual dengan tampang cool biar gak keliatan ngarep dapet bonus gede, saya dipersilakan duduk. Setelah say hi dan basa basi dikit, my boss langsung say, “Fer congratulation you are promoted this year, thank you for your excellent job :).

Masang muka kaget hahaha, to be honest tahun ini nggak ngarep di promote sih, cuma ngarep dapet bonus gede sama naek gaji aja wakkaka. Alhamdulillah rejeki anak soleh hehehe, di tahun ke-empat saya di Deutsche Bank, empat kali pula saya dapat promosi 🙂

Thank you semuanya 🙂

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim, 7)

Refreshing ke Dusun Bambu

f1Setelah lama banget di rencanain dan emang kita kebanyakan planning. Seperti biasa, semuanya gak ada yang jadi, cuma berakhir di chat whatsapp 🙂 . Akhirnya atas ijin-Nya jadi juga saya dan teman-teman di Praisindo jalan-jalan ke Bandung minggu kemaren

Banyak banget drama nih orang-orang mau ke Bandung haha. Baru ke Bandung aja udah rempong ampun-ampunan *gw termasuk – piss ah*, gimana mau ke Jepang atau Korea yak.

Riweuh mau nentuin nginep apa nggak, riweuh mau kemana aja, riweuh mau makan dimana aja, sampe ada yang minta dibuatin itenary segala. Ribet dah

Singkat cerita, jadilah kita jalan ke Bandung. Dusun Bambu jadi tempat tujuan pertama kita. Tempatnya enak, adem, hijau dan sejuk. Ada kebun bunga yang bagus juga. Konsep utamanya seperti di Kampung Sampireun yang ada di Garut, yang ada villa-villa gitu yang di kelilingi oleh danau buatan.

Selain itu, banyak jajanan sunda yang menurut saya harganya pas di kantong , nggak overprice kaya harga makanan di tempat resort lain yang overprice. Oh ya, sebelum kita beli makanannya, kita harus tukar uang dengan “uang monopoli” dulu. Overall, tempatnya menurut gw cozy untuk hangout bareng keluarga.

f5f3

f2f4

f6f7

f8f9

Sabtu Bersama Bapak

my books 3Mumpung liburan tahun baru, disempetin untuk ngereview buku “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya. Mungkin saya telat baru di penghujung tahun baca buku ini, kalo lihat di bukunya, edisi yang saya pegang kali ini merupakan cetakan keenam di tahun 2014. Wow banget kan !

Sebuah buku tentang seorang Bapak yang berhasil memberikan pesan-pesan kepada dua anak lelakinya melalui cara yang tidak biasa. Si Bapak menyempatkan membuat kumpulan video-video singkat yang berisikan pesan-pesan untuk anak-anaknya. Sebelum akhirnya si Bapak meninggal dunia karena sakit

Dimana setelah si Bapak tiada, setiap sabtu malam si ibu dan kedua anaknya akan bekumpul bersama untuk melihat video nya Bapak.

Buku fiksi yang berisikan 277 halaman ini bercerita mengenai sebuah keluarga dengan dua anak laki-laki. Sebagaimana saya kutip di sampul belakang buku ini,

“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka. “

Bingung mau apa yang di review, karena menurut saya setiap momen buku ini mempunyai makna. Mungkin lebih enak untuk ngeshare hasil pemikiran saya setelah baca buku ini hehe.

Ada hal yang membuat saya sempat meneteskan air mata, ketika sang Ibu yang kekeuh nggak mau merepotkan kedua anaknya ketika sang Ibu sedang sakit keras. Ia berusaha dengan keras untuk menutupi kesakitannya itu dari kedua anaknya hanya karena ia tidak mau merepotkan dari anak-anaknya.

Kisah seorang anak pertama yang mempunyai wajah dan prestasi mumpuni, tapi ia harus diuji untuk menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi anak-anaknya. Ia yang suka marah-marah ketika pulang kerja dan selalu membandingkan atas apa yang anaknya capai dengan apa yang telah ia capai di seumuran anaknya dahulu. *langsung ngaca*

Sebuah cerita tentang anak kedua dari si bapak yang berjuang untuk mencari cinta. Berjuang dari ledekan dari saudara dan desakan dari Sang Ibu yang sangat ingin melihatnya di pelaminan selagi sang ibu masih ada usia.

Ada percakapan menarik bagi saya antara Sang ibu dan si anak kedua (Saka) mengenai jodoh.

“Mam, sebenernya ada kok, alasan kenapa Saka sampai sekarang belum menikah atau belum punya pacar.”

“Saka membuktikan kepada diri sendiri dulu. Bahwa Saka siap lahir batin untuk jadi suami. Makanya ngejar karier dulu. belajar agama dulu. Nabung dulu. Kalau saka udah pede sama diri sendiri, Saka akan pede sama perempuan”

“….”

“Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.”

“Iya sih, Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat”

Pasti pada comment, kalau nunggu semuanya ada ya nggak nikah-nikah bro !!!. Hey, Setiap orang tentulah punya threshold dimana jika threshold itu telah tercapai, Pastilah untuk mengucapkan ijab Qobul tentu tak lagi menjadi “sulit” baginya.

threshold itu tak semata-mata materi tetapi juga batin, ilmu dan lainnya,

Buku ini banyak mengambil hal-hal yang terjadi di keluarga kita, problematika yang ada di keluarga masa kini. Mungkin di keluarga saya dan mungkin di keluarga kalian. Cerita yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang ibu yang baik, anak yang berbakti kepada orang tuanya, serta tak ketinggalan bagaimana menjadi seorang suami yang baik untuk istrinya dan seorang ayah yang patut dicontoh bagi anak-anaknya.

Semuanya berhasil disusun apik oleh penulis dalam sebuah buku fiksi yang mengalir enak dan sukses memberikan pesan ke pembacanya tanpa rasa menggurui.

2014 in Review and Happy New Year 2015

Happy new year everyone. Malam tahun baru saya seperti pergantian di tahun-tahun sebelumnya. Gak kemana-mana, meski kosan tinggal ngesot ke Bund HI. Pusat dari keramaian di Jakarta, tidak membuat diri ini tergoda untuk ikutan hahaha. Malem tahun baru kali ini saya isi dengan muhasabbah tidur saja. Nothing special juga, biasa aja hahaha.

Entah kenapa, di penghujung akhir tahun ini banyak berita yang kurang enak, dari longsor di Banjar Negara hingga terakhir yang masih hangat di media, mengenai Jatuhnya Pesawat Air Asia Surabaya-Singapore.

Dengan banyak berita duka begini, beneran bisa hura-hura ngerayain tahun baru ?. Oh man, saya aja masih merinding kalau ngelihat berita ini apalagi nonton liputannya mengenai korban yang ditemukan di lautan. Coba deh liat daftar penumpangnya, kebanyakan mempunyai nama belakang yang sama which is means mereka itu satu keluarga. Hmm, Rest in peace for all of you 😦

Oke, di tahun 2014 kemarin banyak hal suka dan duka. Overall, Alhamdulillah banyak harapan yang udah berhasil dituntaskan. Meski ada beberapa yang sepertinya masih harus diperjuangkan di tahun 2015. Akan tetapi semuanya harus disyukuri, atas pencapaian yang sudah dilakukan di tahun 2014.

Kini, yuk semangat untuk berjuang di tahun 2015.

Summary tentang hasil ngeblog selama tahun 2014 semuanya ada di link berikut

Click here to see the complete report.

Books of the Month – Dec 2014

my booksBeberapa minggu ini, di path sama facebook kayaknya lagi ramai ngeposting tentang ini buku. Yap, buku “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya. Banyak yang bilang kalo buku ini recommended untuk di baca. Jadilah buku ini masuk ke dalam list buku yang bakal di beli bulan ini. Tunggu reviewnya yah di postingan selanjutnya.

Sebenernya buku ini udah di beli hampir 2 weekend yang lalu. Tapi baru sempet di baca pass long weekend kali ini. Weekend atau lebih tepatnya long weekend kali ini, saya nggak ada agenda kemana-mana. Sebenernya pengen mudik ke Sragen, tapi karena Pak bos lagi cuti juga. Nggak tenang aja cutinya hahaha.

Sebenernya bulan ini cuma mau beli satu buku aja, judulnya “Thingking Fast and Slow” karangan dari Daniel Kahneman. Tapi karena “Sabtu Bersama Bapak” kayaknya keren jadilah nambah buku ini di beli. Oh iya kenapa saya beli buku dari Pak Daniel ini gara-gara postingan Ibu dosen pembimbing kuliah saya dulu haha. Percaya aja klo si Ibu bilang bagus pasti bagus deh hahaha. Jadilah buku ini dibeli.

Seperti biasa kalo ke Gramed suka kalap. Buku karangan John C Maxwell yang berjudul “Becoming a Person of influence “menjadi pelengkap dari dua buku yang saya beli di hari itu. Kenapa ? entah tiba-tiba kayaknya seru kalau kita bisa ngasih influence positif ke orang lain *songong*. Yang saya tau si Pak John ini kan emang penulis bagus. Ok,let see

Gimana reviewnya buku-buku tadi ? Nanti yah bakal di postingan berikutnya, karena sekarang juga belum beres semua baca tuh buku. Sekali lagi, hasrat membeli buku memang terkadang jauh lebih besar dari menyelesaikan bacaan dari buku yang di beli *seneng belanja* hahaha.

Wifi dan Anak Kosan

Books and nastarCek hape pas bangun tidur kayaknya udah jadi ritual di jaman sekarang, termasuk saya :). Selain liat jam, saya juga ngecek apakah ada notif yang masuk dari jejaring sosial yang saya punya. Hahha, *sok eksis ye*. Secara ada path, twitter, facebook, instagram, linkedin, sama blog. Dan itu semua akun aktif ya hahaha.

Ngeliat hape, terdiam sesaat, wifi kosan kenapa nggak connect. Hah, Langsung panik – shock *lebay*. Ah mungkin masih nge search ni HP nyari sinyal wifi kosan. Selepas sholat subuh cek lagi hp ternyata masih belum connect huaauhuaaa *nangis guling*. Secara ngekos di Kebon kacang, daerah yang terkutuk bagi semua provider internet. Wifi jadi satu-satunya cara bagi saya untuk berkomunikasi dengan dunia luar *lebay lagi*.

Paginya langsung cari koko kosan untuk mencari tau kenapa wifi kosan kagak nyala. Aaaand kamarnya ternyata di kunci, langsung inget ini kan hari Natal, kayaknya si koko lagi di rumahnya yang di Bintaro buat ngerayain natal. Tapi wifi kosan juga jangan dimatiin keleus hiks hiks.

Udahlah pasrah seharian di kosan bakal mati gaya, fakir sinyal. Terkadang sesekali ada whatsapp masuk. Tapi nyampenya telat di hp saya 😦

Mungkin semuanya udah diatur di hari pertama di long weekend ini kalau saya disuruh membaca buku yang udah pernah dibeli beberapa minggu lalu. Ada tiga buku yang udah dibeli tapi belum satupun yang udah di baca, semuanya masih terbungkus segel cantik plastik. Hehe.

Memang hasrat membeli buku terkadang jauh lebih besar dari menyelesaikan bacaan dari buku yang di beli. *seneng belanja*

Terus juga langsung inget kalau sebelumnya udah beli se-toples nastar dari temen kantor untuk nemenin saya pas baca buku hahaha. Kayaknya yang abis duluan itu nastarnya daripada bukunya hahaha. jadilah hari pertama di long weekend kali ini tanpa wifi kosan, bener-bener ngeberesin baca buku ditemani dengan setoples nastar enak. Happy long weekend everyone.

Gathering ke Padma Hotel Bandung

Padma02Yeay, ketemu weekend lagi. Bulan ini weekend padat cuy, nggak bisa leha-leha di kosan. Akan tetapi di weekend kali ini akhirnya bisa nyantai-nyantai di kosan sambil update blog lagi, browsing-browsing blog orang.

Postingan kali ini, ceritanya mau share tentang outing kantor yang kayaknya sayang kalo gak di masukkin ke blog. Alhamdulillah, tahun ini outing ada lagi setelah tahun lalu kita cuma gigit jari gak kemana-mana karena adanya cutting cost dimana-mana. Well, tapi tetep lah outing gak boleh pergi jauh-jauh. Gak boleh naek pesawat, gak boleh nyebrang pulau. Katanya sih, dengan alasan keamanan, jadi yah yang deket-deket aja

Tahun ini, Bandung jadi pilihan. Karena budget per orang lumayan, adinya yah its time untuk foya-foya hahaha. Padma Hotel menjadi hotel tujuan kita pada outing kali ini. Coba deh buka situsnya, keren abis. Dan pas liat langsung emang keren nih tempat meski saya foto di webnya jauh lebih keren hehe. Maklumlah efek foto :). Hotel ini kayaknya pas deh buat family yang nggak suka keramaian kota Bandung dan ditambah hospitality yang ramah. Dan yang paling penting cocok banget buat foto-foto haha

Ferry01

Padma01Acara tahun ini gak ada lagi training materi tapi kita langsung cap cus outbond dengan fun game di sekitaran taman Padma Hotel. Seru, capek, tapi fun.

Gak cukup sampe situ, kita ada gala dinner juga. Tapi untuk dinnernya kita lebih memilih Sheraton Hotel. Kenapa ? Padma Hotel hanya mengijinkan ada keramaian hingga pukul 9 malam. Setelah jam itu, tidak diperkenankan ada kebisingan. Tau sendiri, anak DB mah pada gila, biasa pada dugem sampe pagi kali ya, ini malah disuruh sampe jam 9 malam, jam segitu belum panas lah hahaha.

Makanya sesuai yang apa saya bilang tadi, Padma Hotel ini paling cocok untuk yang pengen istirahat di Bandung dengan view bukit yang bagus di tambah dengan sejuknya kota Bandung. Honeymoon, relax bareng keluarga, ini tempat paling pas deh.

Ketika gala dinner, kita nggak cuma makan, tetapi tiap unit harus menampilkan performance. Tema kali ini adalah genre musik. Ada yang Dangdut, RnB, K-Pop dan Rock. Tak disangka Deutsche Bankers jago-jago buat konsep performancenya. Kayaknya ini jadi ajang pelampiasan stress kerjaan di kantor haha. Dan diluar perkiraan unit saya jadi Juara 1 🙂 mayan nih abis outing bisa makan-makan.

So far, tahun ini seru, keren dan bener-bener enjoy banget dengan semua services yang ada, dari hotel, makan, acaranya. Semuanya excellent. Thank you panitia hehehe

Disaat sakit itu datang

Weekend ini sepertinya sudah ditakdirkan untuk nggak bisa kemana-mana. Padahal sebenarnya ada beberapa agenda yang harus dilakukan di akhir pekan ini. Entah kenapa Jumat malam sehabis pulang kerja, badan terasa demam. Pertanda harus bedrest nih.

Sebelum kosan mampir ke minimart terdekat beli beberapa obat seperti Antangin, Procold, Larutan Cap Kaki tiga. Semoga dengan ketiga senjata tadi badan jadi lebih bersahabat di keesokan harinya.

Beginilah nasib anak kos klo sakit. Jauh dari Mama, segala sesuatunya harus kita lakuin sendiri, hehe.

Sebelum tidur, Salonpas sudah di tempel di kepala, dan leher. Tak ketinggalan minyak angin juga ikut menemani jumat malam ini. Pendingin udara di kamar sudah saya set di 25 derajat *meski demam tetep ga bisa matiin AC*. Tak lupa sebelum matiin lampu, badan sudah berjaket tebal dan pake kaos kaki. Setelah semua alat tempur lengkap, mata mulai terpejam sambil berdoa semoga sakit ini segera pergi bersama dosa-dosa ini.

Alhamdulillah, ketika bangun tidur di sabtu pagi, demam sudah reda. Tinggal meriang-meriang dikit lah. Alhasil, beberapa agenda yang sebelumnya sudah dirancang harus saya batalkan untuk istirahat di kosan. Tidur, makan, tidur lagi jadi aktivitas di hari Sabtu kemarin.

Di saat sakit seperti ini, sebuah nasyid Muhasabah Cinta dari Edcoustic memang paling pas yang menggambarkan keadaan dan harapan saya di akhir pekan ini. Bersyukur masih diberi rasa sakit, semoga ini bisa menjadi penggugur dosa. Amin

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya” (HR. Bukhari & Muslim).

Pengalaman jadi Interviewer

Kali ini mau sharing mengenai pengalaman saya menjadi seorang interviewer di kantor. Kebetulan bulan ini, team kami sedang mencari tambahan seorang staff untuk mengimbangi padatnya workload yang ada di kantor #curcol.

Saya, team leader di Equity dengan ditemani seorang team leader dari Bonds dipercaya untuk menyeleksi beberapa kandidat yang masuk. Ini adalah kali pertama saya dapat kesempatan untuk menjadi interviewer di kantor.

Sudah ada beberapa kandidat yang telah kami seleksi dalam sesi wawancara. Kebetulan kandidat yang ingin kami cari adalah yang masih muda, dengan pengalaman kerja antara 1-2 tahun. Oh ya, ketika sedang meng-intreview mereka, ini kembali mengingatkan saya beberapa tahun silam, interview sana sini, deg-degan, psikotes sana-sini. Capek, tapi ya harus berjuang hehehe

Ongkos menipis, ketika saya masih kos di Bogor dan harus bolak balik Bogor-Jakarta untuk melakukan interview dan serangkaian tes. Tentu ini perlu uang yang tak sedikit, setidaknya pada saat itu. Uang seratus ribu yang biasanya untuk “hidup” satu minggu di Bogor, tetapi kini hanya bisa bertahan 1-2 hari karena harus bolak-balik Bogor Jakarta. Apalagi dibalas dengan tak adanya panggilan lanjutan dari perusahaan yang sudah kita ikut proses seleksinya. Fiuhhh

Balik lagi, beberapa kandidat yang saya jumpai, hampir semuanya terlihat kurang pede dalam menjawab pertanyaan dari kami. Padahal, jika kita baca CV-nya terlihat meyakinkan. Entahlah, mungkin nerveous dengan tingkat kegantengan saya 🙂 atau ada sebab lain yang membuat mereka kurang pede. Padahal impactnya kita menjadi kurang yakin dengan performance si kandidat.

Juga, hampir semua kandidat mempunyai kemampuan bahasa inggris yang dibawah rata-rata. Meski kami tidak melakukan tes toefl atau sejenisnya. Ini terlihat ketika saya minta untuk menilai diri mereka sendiri dalam berbahasa inggris, mereka memberikan nilai rendah. Padahal mereka ada yang berasal dari kampus PTN ternama juga. Sebenarnya kita juga tidak mencari yang kemampuannya super excellent, karena sayapun merasa masih harus belajar lagi. Tetapi setidaknya untuk conversation, respon email, dan hal-hal standar setidaknya harusnya mampu.

Oh ya, satu lagi. IPK tidaklah menjadi hal utama. Ada kandidat yang masuk dengan IPK 3.82, tetapi dalam proses interview terlihat “sangat biasa”. IPK hanyalah menjadi tiket masuk bagi seseorang bisa di panggil untuk ikut seleksi, setelah itu soft skill lah yang berbicara. Jadi, bagi yang masih menjadi mahasiswa, yah setidaknya IPK minimal 3.00, saya rasa sudah cukup untuk punya jalan lebih mudah di dunia kerja, tentu hal ini jangan menjadi alasan untuk tidak mengejar IPK tinggi di kampus hehehe.

Menarik juga ya, bisa dapat kesempatan utuk menyeleksi orang hehe. Banyak hal yang bisa kita amati, dari gaya bicara, gesture tubuh, serta dari jawaban-jawaban yang keluar dari si kandidat. Jadi pengen belajar psikologi neh jadinya, hehe.

My first Credit Card

CCKartu kredit di jaman serba cashless kaya sekarang sepertinya sudah menjadi lifestyle kebutuhan. Apalagi alasannya kalau bukan praktis. Sekarang kalau mau belanja online kan jadi lebih mudah, kalau pake kartu kredit, bisa shopping di ebay atau situs-situs luar negeri hahha. Padahal saya juga belum pernah sih beli barang dari situs-situs online shop luar kaya ebay atau amazon gitu hehe.

Akan tetapi jangan lupa ya, segala sesuatu yang ada di muka bumi, selain ada manfaatnya, pastilah ada juga mudharatnya. Mungkin tak sedikit dari kita mendengar teman, atau bahkan keluarga yang pernah atau sedang terlilit hutang kartu kredit. Say No deh ya untuk ini, selalu lunasi tagihan tepat waktu. Think wisely yah.

Setiap credit card holder harusnya tahu kalau bunga dari hutangnya itu melebihi dari bunga rata-rata dari bunga jika kita mengambil loan di Bank. Apalagi Bank menggunakan skema bunga berbunga, yang jumlah tagihan kita bisa menjadi membengkak apabila lama nggak segera dilunasi. Malah malah bisa gedean bunganya daripada nilai pokok tagihan kita.

Awal tulisan udah cerita yang serem-serem,kenapa saya tetap apply kartu kredit. Gini sih, awalnya juga gak butuh butuh amat sama namanya kartu kredit karena so far kebanyakan transaksi yang saya lakukan saat ini sudah cukup dengan Debit Card.

Sebenarnya lebih ke alasan lifestyle dan supaya keren bosen angkat telfon dari marketingnya CIMB Niaga yang nawarin mulu kartu kredit, sebulan sekali sampe dua kali kayaknya pasti deh.

Setelah sekian lama di cuekkin bahkan sempat ngomelin ketika telpon dateng ketika kerja lagi hectic akhirnya saya luluh juga untuk ambilnya offernya. Waktu itu di bulan Agustus sih dapetnya telponnya. Kata dia sih, free charge seumur hidup. Kalau bank lain kan ada biaya tahunan kan, nah kalo di CIMB Niaga ini free tuh.

Setelah mengikuti prosedurnya, beberapa hari kemudian saya di telpon lagi kalau kartu kredit saya di approve. Prosesnya cepet sih, bahkan saya nggak harus ngasih apa-apa ke mereka. Mungkin karena CIMB Niaga jadi payroll Banknya kantor dia dah tau account statement rekening saya. Soalnya kalau googling, nggak sedikit keluhan dari lamanya proses untuk apply kartu kredit di CIMB Niaga. Mungkin karena free charge seumur hidup kali yah, jadi banyak yang apply.

By the way, sejak diterimanya kartu kredit ini hingga sekarang saya belum pernah pake hahha. Mau sih nyoba make ini kartu kredit. Yah, mulai dari nonton di Blitzmegaplex deh, baca sih lagi ada promo buy one get one untuk CIMB Niaga creditcard holder. Masalahnya selama ini kalau nonton selalu sendiri sih hahaha #Curcol , jadi promonya kurang bermanfaat untuk saya. Yah, semoga saya bisa bijak ya dalam memanfaatkan ini kartu 🙂

Kamera ? Perlu Gak Ya ?

Source: 123rf.com

Sebagai anak gaul Jekardaahh jaman sekarang, Kamera sepertinya sudah menjadi #MustHave item. Coba liat deh, kalo ke mall udah banyak orang nenteng atau ngalungin kamera DSLR yg segede gitu *apa gak berat apa tuh*. Meski menurut saya, klao ke mall kok kurang pas rasanya bawa kamera gitu2 an hahaha. Oh ya, this is Jakarta bro, mungkin dengan nenteng gitu2an jadi lebih keren, yah lebih ke lifestyle sih.

Tak hanya di mall, coba liat foto profile picture temen di social media (fb, twitter, path, etc) banyak yang dengan gaya sambil moto gitu. Lebih keren ? iya sih hahaha.

Oke, ini mau nulis apa ya, kok dari tadi malah komentarin orang mulu. Disaat orang-orang pada punya kamera yang bisa meningkatkan level ke-kerenan, membuat saya jadi mupeng hahahaha. Jadi inti dari tadi ngomentarin orang-orang pada nentengin kamera adalah karena saya belum punya hahahaha.

Sampai sekarang, saya masih ragu untuk mengambil uang jutaan di tabungan hanya untuk sebuah kamera *liat harga rumah yang menggila, yang tiap senin harga naik #FeniRose*. Fotografi ? sebenernya saya suka foto-foto sih.

Apalagi sejak punya akun instagram, membuat nambah menggila keinginan ini, yak ini keinginan sih bukan kebutuhan *inget bukunya Ligwina Hananto*. Tapi setelah mikir mikir, sepertinya saya lebih suka jadi objek yang di foto *tepokjidat* *ngeles*. Tak apalah demi sesuatu yang lebih besar hehe.

Jadi kesimpulannya, sekarang saya menahan diri dululah untuk beli ini item *liat Sony Alpha 6000* *ngiler*. Untuk Semenetara cukuplah berfoto ria dari kamera ponsel. Meski kualitasnya yah, kalo buat posting di path sama instagram udah cukup lah wakakkak *masih ngebayangin Sony Alpha 6000*

Inikah Waktunya ?

Minggu ini ada dua kejadian yang membuat weekend kali ini jadi “mikir”. Di suatu pagi, tiba-tiba ada senior dulu di kampus kirim pesan di whatsapp. Awalnya menanyakan kabar saya, memang kami cukup lama nggak contact, hanya sesekali bersapa di comment facebook dan twitter. Dulu kami pernah bekerja sama dalam suatu projek yang membuat kami cukup mengenal satu sama lain. Inti dari pesan di pagi itu adalah menanyakan “status” saya kok belum berubah ? *jleb* kaya tiba-tiba ditusuk hahaha #lebay.

Biasanya saya sudah agak terbiasa dengan pertanyaan ini dari teman, tetangga atau temen kantor yang suka usil haha. Tetapi kalo yang nanya si Senior ini, sepertinya saya jadi agak serius jawabnya. Haha.

To the poin, si Senior ingin memberikan bantuan kepada saya untuk ta’aruf. Kebetulan beliau mempunyai informasi kalau seorang akhwat yang kebetulan teman dari istrinya yang diharapkan bisa menjadi jodoh bagi saya *hening seketika*. Setelah chat chit chat, saya jawab jikalau sekarang saya belum siap untuk ini, untuk melaksanakan sunnah Rasul, untuk mengenapkan setengah dari DienNya.

Perbincangan chat ini kami diakhiri sebelum si Senior memberikan data yang lengkap mengenai akhwat ini ke saya. Hmm, Ya Allah yakinkanlah hambaMu yang penuh dengan keraguan untuk yakin dalam mengenapkan setengah dari DienMu.

Kebetulan atau tidak, keesokan harinya, ada seorang tetangga di kampung yang kini sudah menetap lama di Jakarta mengirimkan pesan melalui Whatsapp juga. Beliau salah satu pejabat teras di salah satu Bank BUMN terbesar di Indonesia. Whatsapp sepertinya menjadi sarana paling efektif dan efisien untuk menjalin ikatan silaturahmi yang telah lama kendor. Singkat cerita, kami janjian untuk dinner di salah satu Mall di Jakarta Pusat.

Saat itu, seperti biasa, karena beliau sudah seumuran ayah saya, jadi beliaulah yang lebih banyak sharing, memberikan nasehat dan kisah perjuangan hidup. Singkat cerita, beliau meminta saya untuk berta’aruf dengan putrinya dan mengundang saya ke rumahnya untuk setidaknya berkenalan dengan putrinya.

Saat di tanya seperti itu, bener-bener hening. Saya terdiam agak lama untuk membalas pertanyaan beliau. Dalam hati bingung mau jawab apa, bingung bingung bingung. Mau jawab apa ya, masalahnya yang meminta adalah Bapak dari si anak gadisnya ini *ngelap keringet* *sudah nggak konsen makan*.

Peristiwa ini udah sukses membuat weekend kali ini “kepikiran” akan undangan ta’aruf dari si Senior dan undangan dari seorang Ayah yang meminta saya taaruf dengan putrinya. Arghhh, entahlah apa yang membuat hati ini belum siap untuk melangkah serius ke arah pernikahan.

Tahun ini, usia saya sudah menginjak 26 tahun, memang sepertinya sudah sangat pantas untuk serius mikir menikah. Selama ini saya jarang berpikir untuk ke arah sana, meskipun banyak teman sekelas kuliah dulu sudah banyak yang menikah.

Kebetulan dari orang tua, tidak pernah sama sekali meminta atau bahkan menanyakan perihal ini kepada saya. Saat ini saya masih terlalu fokus untuk keluarga, melihatnya bahagia dahulu. Entahlah saya masih belum bisa berbagi cinta, kasih sayang dan perhatian dari selain keluarga. Tapi apakah ini bisa dijadikan alasan ? Ya Rabb, bimbing hamba, yakinkanlah hamba untuk bisa menggenapkan setengah dari DienMu. Amin