Pengalaman jadi Interviewer

Kali ini mau sharing mengenai pengalaman saya menjadi seorang interviewer di kantor. Kebetulan bulan ini, team kami sedang mencari tambahan seorang staff untuk mengimbangi padatnya workload yang ada di kantor #curcol.

Saya, team leader di Equity dengan ditemani seorang team leader dari Bonds dipercaya untuk menyeleksi beberapa kandidat yang masuk. Ini adalah kali pertama saya dapat kesempatan untuk menjadi interviewer di kantor.

Sudah ada beberapa kandidat yang telah kami seleksi dalam sesi wawancara. Kebetulan kandidat yang ingin kami cari adalah yang masih muda, dengan pengalaman kerja antara 1-2 tahun. Oh ya, ketika sedang meng-intreview mereka, ini kembali mengingatkan saya beberapa tahun silam, interview sana sini, deg-degan, psikotes sana-sini. Capek, tapi ya harus berjuang hehehe

Ongkos menipis, ketika saya masih kos di Bogor dan harus bolak balik Bogor-Jakarta untuk melakukan interview dan serangkaian tes. Tentu ini perlu uang yang tak sedikit, setidaknya pada saat itu. Uang seratus ribu yang biasanya untuk β€œhidup” satu minggu di Bogor, tetapi kini hanya bisa bertahan 1-2 hari karena harus bolak-balik Bogor Jakarta. Apalagi dibalas dengan tak adanya panggilan lanjutan dari perusahaan yang sudah kita ikut proses seleksinya. Fiuhhh

Balik lagi, beberapa kandidat yang saya jumpai, hampir semuanya terlihat kurang pede dalam menjawab pertanyaan dari kami. Padahal, jika kita baca CV-nya terlihat meyakinkan. Entahlah, mungkin nerveous dengan tingkat kegantengan saya πŸ™‚ atau ada sebab lain yang membuat mereka kurang pede. Padahal impactnya kita menjadi kurang yakin dengan performance si kandidat.

Juga, hampir semua kandidat mempunyai kemampuan bahasa inggris yang dibawah rata-rata. Meski kami tidak melakukan tes toefl atau sejenisnya. Ini terlihat ketika saya minta untuk menilai diri mereka sendiri dalam berbahasa inggris, mereka memberikan nilai rendah. Padahal mereka ada yang berasal dari kampus PTN ternama juga. Sebenarnya kita juga tidak mencari yang kemampuannya super excellent, karena sayapun merasa masih harus belajar lagi. Tetapi setidaknya untuk conversation, respon email, dan hal-hal standar setidaknya harusnya mampu.

Oh ya, satu lagi. IPK tidaklah menjadi hal utama. Ada kandidat yang masuk dengan IPK 3.82, tetapi dalam proses interview terlihat β€œsangat biasa”. IPK hanyalah menjadi tiket masuk bagi seseorang bisa di panggil untuk ikut seleksi, setelah itu soft skill lah yang berbicara. Jadi, bagi yang masih menjadi mahasiswa, yah setidaknya IPK minimal 3.00, saya rasa sudah cukup untuk punya jalan lebih mudah di dunia kerja, tentu hal ini jangan menjadi alasan untuk tidak mengejar IPK tinggi di kampus hehehe.

Menarik juga ya, bisa dapat kesempatan utuk menyeleksi orang hehe. Banyak hal yang bisa kita amati, dari gaya bicara, gesture tubuh, serta dari jawaban-jawaban yang keluar dari si kandidat. Jadi pengen belajar psikologi neh jadinya, hehe.

Advertisements

About Ferry

Berusaha untuk menjadi orang yang makin bermanfaat bagi orang lain

Posted on September 24, 2014, in lif3 and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Saya belum mengalami interview kerja bang, jadi deg-degan hehehe *tingkat akhir*

  2. Confident aja sih πŸ™‚ gud luck buat skripsinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: