Kembali bertemu dengan Ramadhan

Alhamdulillah, tahun ini saya dan keluarga masih diijinkan untuk merasakan nikmatnya Ramadhan. Meski kini masih puasa di perantauan, sendiri, tak ada yang masak kalau sahur #curcol.

Ramadhan tahun ini memang lebih padat dibandingkan Ramadhan tahun sebelumnya di Jakarta. Hal yang membuat berbeda ialah sahabat dan guru-guru di Masjid Sa’id Na’um. Oh so lucky me , bisa mendapatkan kesempatan untuk beteman dan selalu berkumpul dengan orang orang sholeh seperti mereke. Semoga menular ke saya yah :).

Sebenarnya, di awal Ramadhan sempat ingin membuat one post one day, yah kaya ODOJ gitu. Isinya tentang pengalaman dan aktivitas seharian di bulan Ramadhan, tapi apa daya rencana hanya tinggal rencana. Seperti biasa alasan males dan sok sibuk gak sempet selalu menjadi hambatan dalam memulai nulis. Ini aja baru nulis lagi setelah seminggu Ramadhan. Eh, dah seminggu yah, hmmm cepet bener. Banyak momen-momen nih yang udah terjadi di minggu pertama Ramadhan ini.

Oh ya, ada sebuah tausyiah di salah satu masjid ketika tarawi, yang menurut saya sangat menarik untuk disimak. Pernah dalam suatu majelis, Rasululllah SAW pernah menyatakan bahwa ada di antara kalian yang masuk neraka. Nah, saat itu setiap orang yang berasa di majelis tersebut sangat ketakutan. Apakah dirinya yang dimaksud oleh Rasul ?.

Tentu perasaan ini menjadi pertanya besar di dalam pikiran dari masing masing orang yang ada di majelis tersebut. Satu persatu setiap orang yang hadir di majelis tersebut wafat dengan terlihat khusnul khatimah. Hingga akhirnya menyisakan dua orang *saya lupa namanya 😦 *

Hingga tahun berganti tahun, salah seorang dari mereka di utus oleh khalifah untuk berunding dalam peperangan. Tentu bagi yang seorang tinggal di kota melihat seorang temannya yang diutus oleh Khalifah dalam peperangan akan masuk surga jika ia meninggal di dalamnya sebagai syahid. Akan tetapi Allahlah yang punya kuasa, tak disangka sahabat yang diutus tadi ternyata membelot di pihak lawan. Bahkan kini ia menyerang kaum muslimin.

Di akhir cerita ia meninggal sebagai kafir. Jauh dari islam. Bolehlah kita tengok lagi, kalau sebelumnya ia adalah sahabat Rasul yang bahkan satu majelis dengan Rasul. Akan tetapi ternyata ia meninggal dalam keadaan yang su’ul khotimah.

Nah, hikmahnya apa hayoo. Ini buat reminder buat saya sendiri pada khususnya. Seseorang yang hidup di jaman Rasul, bahkan satu majelis dengan Rasul saja bisa tergelincir di akhir hayatnya.

Nah, kita ? dengan segala macam tantangan dan rintangan di jaman modern kaya gini tentu menjadi lebih mudah bagi kita tergelincir ke dalam jurang neraka. Naudzubillah !!!. Yuk, sama sama belajar dan saling mengingatkan ketika teman atau sahabat untuk terus memperbaiki diri.

 

Advertisements

About Ferry

Berusaha untuk menjadi orang yang makin bermanfaat bagi orang lain

Posted on July 6, 2014, in lif3 and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: