Brutalisme di dunia pendidikan

Beberapa minggu ini, kita dihantam dengan berbagai berita menyeramkan tentang anak, baik pelecehan seksual maupun aksi kekerasan. Parahnya kejadian yang tak sepantasnya itu terjadi di dalam lingkungan pendidikan yaitu sekolah.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, tetapi kini telah berubah menjadi tempat penyiksaan hingga berakhir kematian.

Merinding ketika mendengar berita ini di TV, seorang siswa di salah satu SD di Jakarta meninggal karena dipukuli oleh kakak kelasnya. Yak, SD bung, Sekolah Dasar. Entah apa yang ada di otak si pelaku hingga tega memukul adik kelasnya hingga tewas.

Di bagian Indonesia yang lain, seorang siswi juga meninggal dunia karena di keroyok oleh teman-teman sekelasnya. Astaghfirullah, ini lebih parah lag, seorang siswi Bung. Ngeri, nggak bisa ngebayangin kok bisa kejadian ini bisa terjadi.

Mengingat kembali masa-masa SD dulu, Alhamdulillah saya sekolah dalam lingkungan sekolah dasar yang kondusif. Entahlah mungkin kini jaman telah berubah. Game-game canggih, gadget, dan internet kini jauh lebih mudah diakses oleh anak SD daripada saya dulu. Boro-boro internet, komputer saja saya baru mengenalnya ketika SMP. Hahaha. Permainan yang ada yah, hanya permainan tradisional anak-anak Jawa, atau ke sawah mencari burung hehe.

Banyak hal memang yang bisa menyebabkan si anak menjadi β€œtega”. Menurut saya, lingkungan masih menjadi faktor yang paling mempengaruhi sikap dan perilaku si anak. Sosok teladan juga faktor penting dalam tumbuh kembang si anak. Saya bersyukur, sejak SD di salah satu desa di Sragen hingga kuliah di kampus IPB Bogor, saya mempunyai banyak sosok guru dan dosen yang sangat saya kagumi.

 

Layaknya pepatah jawa dari seorang guru, yaitu digugu lan ditiru.Mungkin dalam kasus ini yang paling krusial adalah sosok guru di level pendidikan dasar seperti di TK hingga SD.

Sepertinya masih banyak PR yang harus di lakukan pemerintah untuk membenahi sistem pengajaran di negeri ini. Pendidikan karakter, sikap, moral dan perilaku. Tak hanya sibuk dengan proyek tahunan yang namanya Ujian Nasional.

Duh, geram rasanya denger kata itu. Saya termasuk orang yang tak setuju dengan adanya Ujian Nasional yang dijadikan patrameter kelulusan siswa. Nggak adil. Ah, semoga saya sempat dan nggak males ngebahas UN dalam satu postingan terpisah, hehehe.

Tak melulu menyalahkan pemerintah, kita bisa lakukan hal konkret yang bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Kita bisa menjadi teladan dan contoh bagi anak-anak yang ada di sekitar kita.

Maksud saya teladan disini tak selalu dengan semuanya perfect lho. Bisa memberikan contoh dengan tidak menonton TV film-film action/dewasaa bareng dengan anak. Budaya antri, sholat ke masjid bareng, buang sampah tidak sembarangan serta banyak hal lainnya. Mulai dari hal kecil dulu. Semoga dengan ini kita bisa memberikan kontribusi positif bagi anak-anak yang ada di sekitar kita. Dan juga semoga tulisan ini bisa menjadi reminder bagi saya πŸ™‚

Advertisements

About Ferry

Berusaha untuk menjadi orang yang makin bermanfaat bagi orang lain

Posted on May 11, 2014, in lif3 and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: